Fotografi adalah melukis dengan cahaya. Demikian yang didapat dari hasil jeprat-jepret saat itu lalu belakangan mendapatkan buku teknik dasar fotografi dari seorang teman yang isi awalnya, fotografi adalah melukis dengan cahaya.
Ya aku nggak pernah mengenyam pendidikan fotografi secara lembaga tapi fotografi ditularkan begitu saja melalui mata kepada batin yang menghasilkan kenikmatan luar biasa. Awal bersentuhan dengan fotografi adalah saat yang sama dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Bersentuhan dengan fotografi bagai menggetarkan sendi2 pada tubuh yang membuat semua naluri bergerak untuk selalu terus memotret.
Langit biru atau sunset orange adalah fotografi saat itu. Dimana dominasi warna membuat gelisah pikiran untuk mencari lagi dimensi biru dan orange. Puluhan rol film berisi biru dan orange langit lambat laun menjadi warna pakaian wanita yang juga lambat laun tak memerlukan warna tersebut.
Beberapa mata terbelalak menatapi milimeter demi milimeter cahaya yang terekam pada secarik foto, decakkan kagum pada warna langit juga mulusnya kulit. Sampai akhirnya aku menemukan secarik koran ditempat pelukis pinggir kali daerah pasar baru, bergambar penderitaan manusia pada negara lain. Aku tertegun menatapi gambar tersebut, tak menyangka ada hal seperti itu didunia. Selama ini aku membaca beberapa tulisan namun rasanya percaya tak percaya sampai akhirnya kutemukan koran tersebut. Meski secara teknis foto tersebut tak memiliki langit yang biru atau orange, meski secara estetika foto tersebut jauh dari beauty dan terang tapi foto tersebut amat menggetarkan siapapun yang melihatnya. Pelukis pinggir kali itu bilang, itulah fotografi tak pernah berdusta, dia bikin kita tau.
Dua belas tahun berselang, pelukis pinggir kali itu entah kemana, sobekkan koran itu entah jadi apa. Tapi saat itu menjadi momen yang berharga, aku merasa menemukan kunci, membuka mata, akal dan jiwa.
Kini fotografi berkembang bak jamur dimusim hujan (istilah lama yang bosen banget bacanya). Dari anak TK sampai orang tua, dari anak muda sampai ibu rumah tangga menjadi fotografer dalam arti menjepretkan kamera (entah compact atau DSLR). Ibu2 akan menganalisa hasilnya,”..kurang terang..” Anak2 muda mendiskusikan jepretannya,”..langitnya nggak biru, kulitnya nggak mulus..” Produsen alat akan mengecap,”..cuma fitur kami yang canggih.” Maka berlombalah menciptakan foto yang ASTRADA (asal terang gambar ada), bersainglah mewarnai langit, bermimpilah memiliki fitur2 canggih pada alatnya.
Fotografi adalah melukis dengan cahaya, menyampaikan kebenaran lewat tutur yang bersahaja. Ada yang buyar oleh kicauan pembuat alat yang terkadang banyak menyesatkan. Seolah fotogafi terbaik diciptakan oleh fitur2, padahal angle dan momen dalam sebuah fotografi tak bisa diciptakan oleh fitur secanggih apapun kecuali fitur yang diberikan Tuhan yaitu mata, akal dan jari. Nilai2 mulai pudar oleh banyaknya asumsi hilir mudik yang katanya si katanya, fotografi itu adalah kecantikan dan keindahan. Lalu beberapa pikiran segar mendamba jelajahi fotografi yang terpampang dilampu merah atau lapak2, berbekal kamera besar dan tongkrongan yang terlihat gagah.
Rasanya esensi dan nilai edukasi dalam fotografipun mulai sirna, menjalar dari satu kepada yang lain tanpa sadar menciptakan keterbelakangan. Membuat apresiasi fotografi kebanyakan menjadi hampir sama yaitu langit biru atau orange, mulus atau montok, cantik atau astrada. Berada dibelakang kaum yang masyarakatnya tak pernah tergiur dengan mudah oleh asumsi dan persepsi.
Fotografi sebuah cermin.
PS: Dedicated to urusai.